Selasa, 06 November 2012

BUDAYA DAN PERADABAN MASYARAKAT ADONARA


BUDAYA DAN PERADABAN MASYARAKAT ADONARA
(sebuah saduran dari catatan-catatan lepas anak Adonara)

Oleh

Adonara adalah nama sebuah pulau kecil, masuk dalam wilayah administrasi Propinsi kepulauan Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Flores Timur dan berada diantara gugusan pulau yang disebut Kepulauan Solor/Solot tepatnya di ujung timur pulau Flores. Pulau dengan luas wilayah sekitar 509 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 106.334 jiwa dan menyebar ke delapan kecamatan diantaranya; Kecamatan Adonara Barat, Wotanulumado, Adonara Tengah, Adonara Timur, Ile Boleng, Witihama, Kelubagolit, dan Adonara.
Masyarakat Adonara mengakui bahwa leluhur mereka hidup di pulau Adonara semenjak bumi ini diciptakan. Asal usul manusia pertama yang menghuni pulau ini tertelusuri dalam ungkapan Tadon Tana Geto Nara Nuha Nebon (Tadon tana terputus nara pulau terdampar) dan juga ungkapan lain yang diyakini sebagai koda/firman/sabda penciptaan semesta yang termuat dalam ungkapan Pe buta bĂȘte walan mara tana tawan ekan gere (kehidupan bermula ketika lumpur mengering dan nampaklah daratan).  Ungkapan-ungkapan ini memuat padangan kosmologis dan sering dikaitkan dengan bencana mencairnya kutub es akibat meletusnya gunung berapi. Tertelusri dalam mitologi dan legenda yang masih terwariskan secara tutur, keturunan asli  Adonara berasal dari Ile Jadi Woka Buruk (Terlahir dari gunung dan dibesarkan oleh bukit). Keturunan asli ini hidup dengan berburu dan meramu makanan tingkat sederhana sebelum adanya pegaruh budaya luar.  Peradaban ini termuat dalam inti mitos kewae sode bolen, sedon lepan ina dan peni masan dai. Tercatat ada tiga gelombang kedatangan yang mempengaruhi perkembangan peradaban manusia yang mendiami Pulau Adonara.
Gelombang  pertama membawa pola peradaban  berburu dan meramu makanan tingkat lanjut.   Pola perdaban in tercermati dalam  inti mitos tentang Kelake Ado Pehang Beda dan Kwae Sode Boleng di Pulau Adonara, juga tentang Pati Golo Arakiang dan Oa Wato Wele di Daratan Flores Bagian Timur. Keturunan mereka dikenal sebagai Ata Tanah Alapen (manusia penghuni pertama) sebagai gelombang pertama yang menginjakan kaki di  Tanah  Lamaholot (Adonara). Secara geologis keturunan ini berada pada masa Paleolitikum. Gelombang kedua membawa pola peradaban penataan hidup dengan Sang Maha Pencipta, sebagai gelombang kedatangan Sina-Jawa (Cina-Jawa) atau dalam ungkapan lau sina papan dai, lali jawa wakon haka (datang dari belakang Cina dan dari seberang Jawa). Gelombang kedatangan ini disebut keturunan pati-beda yang membawa peradaban bercocok tanam dan sistem religi yang ditandai dengan adanya ritual mula nuba (pendirian altar). Secara geologis keturunan ini berada pada masa mesolitikum.dan disebut keturunan Ata Rera Wulan Alape yang mengatur hubungan sosial dan menata urusan kerohanian. Gelombang ketiga dari Serang-Goran dengan terlebih dahulu menaklukan Rara Gong. Gelombang ini membawa pola peradaban penataan ketahanan diri dan ketahanan sosial baik individu, keluarga, suku maupun lewo. Gelombang ini kemudian mengambil alih kekuasaan dari keturunan gelombang pertama.  Peradaban ini ditandai dengan ritus Mula Nuba Ada Nara (penataan urusan kerohanian dan fisik/jasmaniah dalam konteks sosial). Ata Seran-Goran tiba di Adonara (Lamaholot) karena perebutan mata kail dan warisan pusaka Anan Koda dan lodan (muncul sendiri dari dalam Bumi) berbahan perunggu. Secara geologis berada pada zaman neolitikum dan keturunan mereka dikenal sebagai ”Ata Lewotana Alapen” (Penguasa Lewotana).
Masyarakat Adonara meyakini bahwa hidup dan keberadaan mereka di muka bumi ini karena koda;koda kirin;koda pulo kirin lema (fiman/sabda). Koda kirin diyakini sebagai Sang Pencipta atau Rera Wulan Tana Ekan dan tersimbolkan dibalik makna rie hikun liman wanan dalam lingkup keluarga, nayu bayan dalam lingkup suku dan nuba nara/eken matan pito dalam lingkup lewo/lewotana. Religi masyarakat Adonara terorientasi dengan alam, leluhur dan dengan Sang Pencipta dan terpusat pada koda kirin. Koda kirin diyakini bernilai religius dan dipadang  sebagai falsafah hidup.
Sistem pengetahuan masyarakat Adonara terpusat pada Koda kirin dan terwariskan secara tutur oral mulai dari lingkungan keluarga, suku dan lewo dalam bentuk bahasa Lamaholot. Koda kirin yang memuat sistem pengetahuan ini disimpan dibalik inti mitos atau legenda yang dituturkan sesuai garis kesulungan dalam keluarga, suku dan lewo dan terpraktekan dalam keseharian hidup. Dalam keseharian masyarakat hidup dengan bertani, mengolah perkebunan, beternak dan nelayan.  Masyarakat yang bermukim dipedalaman sebagai petani dan mengolah hasil perkebunan dikenal dengan ata kiwan. Sementara yang hidup dipesisir pantai sebagai nelayan dikenal dengan ata watan. Dalam keseharian, baik petani maupun nelayan  masih terpaku pada pola-pola tradisional religius.
Secara umum, struktur sosial masyarakat Adonara terdiri dari ata tana alape, ata rera wulan alape, ata lewotana alape dan ribu ratu yang memiliki hak, fungsi dan peran masing-masing. Kelompok struktur sosial terkecil adalah suku lango (keluarga), berkembang menjadi suku suku wungu (suku/klen) lalu membentuk lewo (desa) atau dikenal dengan lewotana.  Dalam lingkup lewo/lewotana, mulai ada pembagian peran diantaranya tana alape, rera wulan alape, lewotana alape dan ribun ratu dengan pola empat penjuru diantaranya; hikun teti wanan lali sebagai kelompok yang berperan sebagai penatuan kampung dan yang berkuasa untuk memimpin. Lein lau weran rae sebagai kelompok yang berperan mengurusi hubungan dengan kelompok masyarakat yang lain dan yang bertanggungjawab atas masalah perang dan damai. Dua pola meko mirek sebagai kelompok yang memegang kekuatan luhur, bertugas membacakan/melafalkan/menceritakan asal usul/sejarah dan menjaga tatanan adat. Uaken tukan wai matan sebagai kelompok yang menjamin pertumbuhan ekonomi, yang mengupayakan kesejatraan masyarakat, serta meramalkan suatu kejadian atau tanda. Pembagian fungsi dan peran kelompok sosial ini terlihat pada ritual-ritual adat. Seiring berjalannya waktu, pembagian peran dengan pola empat penjuru ini semakin tenggelam akibat sistem kerajaan, kolonialisme dan NKRI. Kelompok-kelompok sosial yang terbentuk selanjutnya lebih dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi politik yang dipimpin oleh sesorang kapitan yang terbagi dalam dua kakang/wilayah besar yaitu Demon Lewo Pulo dan Paji Watan Lema dibawah kekuasan seorang Raja tetapi setelah NKRI berdiri, kelompok sosial ini dikenal dengan kecamatan.
Seluruh dimensi kehidupan berpusat pada koda kirin, terpraktekan dalam keseharian hidup mulai dari keluarga, suku dan lewo dimana manusia sebagai objek sekaligus subjek baik dalam dimensi sosial-politik, religi dan hukum. Dimensi-dimensi sosial ini selayaknya institusi agama, adat, Negara dan masyarakat dimana keserasian dan keseimbangan hidup tergantung kepatuhan manusia pada koda kirin yang terorientasi dengan alam, leluhur dan Rera Wulan Tana Ekan dan tersimbolkan pada rie hikun liman wanan, nayu bayan, dan nuba nara dalam lingkup keluarga, suku dan lewo/lewotana. (KA;dari berbagai sumber)
tulisan ini di ambil di grup facebook adonara atas ijin penulisnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar